Doloksanggul (Satu Nusantara News) – Baida Rani, merupakan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seorang guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Humbang Hasundutan (Humbahas) Sumatera Utara, yang ditempatkan daerah terpencil yakni di Desa Parmonangan Kecamatan Pakkat.
Perjuangan Rani dimulai sejak dirinya lulus seleksi CPNS pada tahun 2024. Ia tidak menyangka akan ditempatkan di sebuah madrasah di pedalaman yang hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor trail atau berjalan kaki dengan jarak tempuh lima kilometer.
Akses jalan yang rusak parah, jaringan telekomunikasi yang nyaris tak ada, dan keterbatasan fasilitas sekolah bukanlah halangan baginya. Justru itu menjadi cambuk untuk terus belajar, bertahan, dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di pelosok negeri.
“Awalnya saya kaget, karena harus jauh dari suami dan keluarga dan fasilitas serba terbatas. Tapi ketika melihat semangat anak-anak untuk belajar, semua rasa lelah itu hilang,” ujar Rani, dengan mata berbinar-binar saat percakapan di Dolok Sanggul, Selasa (15/07).
Rani menyebutkan, Madrasah tempat dirinya mengajar hanya memiliki ruang kelas sederhana. Sebagian siswa harus duduk berdesakan karena minimnya meja dan kursi. Namun, antusiasme mereka untuk menuntut ilmu luar biasa.
“Bahkan, para siswa datang ke madrasah dengan berjalan kaki sejauh tiga hingga lima kilometer setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski kabut pagi masih kelihatan menyelimuti jalanan berbatu yang basah dan berlumpur.Namun, Rani dengan langkah yang tegap menapaki jalan sempit yang dikelilingi hutan lebat yang berada di sekelilingnya.
Hanya menggunakan tas ransel yang berada di punggung dan senyum penuh semangat, dirinya berjalan menuju madrasah di tempatnya dirinya mengabdi sebagai seorang yang berprofesi guru.
Rani yang berasal dari Aek Nabara, Kabupaten Labuhan Batu, kelahiran tahun 1995 yang sebelumnya mengajar di SMA dan SMK Swasta Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
Wanita yang memiliki hobi membaca yang terinspirasi dari seorang dr. Aisah Dahlan, seorang dokter yang menginspirasi banyak orang dengan berbagai tips psikologi dan neuparenting.
Rani mengajar sebagai guru kelas. Di sela-sela kesibukan mengajar, ia juga membantu para guru senior menyusun program belajar tambahan bagi siswa yang tertinggal. Tidak jarang, ia juga turun tangan dalam kegiatan sosial dan pembangunan lingkungan madrasah, mulai dari membersihkan halaman hingga membantu perbaikan ringan bangunan.
“Saya merasa inilah bentuk nyata dari pengabdian sebagai guru. Bukan hanya mengajar, tetapi juga ikut membangun karakter dan semangat anak-anak di sini,” ujarnya.
Meski berada jauh dari pusat keramaian kota, Rani tidak merasa sendiri dan membentuk komunitas kecil bersama beberapa guru muda lainnya yang juga ditempatkan di daerah terpencil. Mereka saling menyemangati, berbagi materi bahan pelajaran.
Kementerian Agama RI mengakui peran besar para guru CPNS seperti Rani dalam mengangkat kualitas belajar dan pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Kepala Madrasah tempat Rani mengajar Ridawati Sinaga S.Pd menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas dedikasi para guru muda yang mengabdi di daerah terpencil dan cukup jauh.
“Mereka adalah pahlawan sejati. Datang dengan hati, bekerja dengan ikhlas, dan memberi harapan bagi generasi penerus bangsa,” ujar Rahida.
Meski jalanan yang dilalui penuh lumpur, hujan deras, atau rindu kepada sang suami dan keluarga di rumah, namun Rani memilih untuk tetap bertahan. Baginya, menjadi guru bukan hanya sebagai profesi, tetapi panggilan jiwa.
“Saya percaya, pendidikan adalah kunci perubahan. Jika kita mau bergerak dan mengajar dari hati, maka perubahan itu akan nyata, meski dimulai dari pelosok terpencil sekalipun,” ucap Rani dengan penuh semangat.
Semangat Rani adalah potret dari ribuan guru muda di seluruh pelosok negeri tercinta Indonesia yang rela meninggalkan keluarga dan kenyamanan, hanya demi untuk mencerdaskan anak bangsa. Di balik keterbatasan yang mereka miliki selama ini, mereka hadir membawa harapan yang cukup besar untuk membangn NKRI. Di tengah heningnya hutan rimba raya dan jalanan yang dalam keadaan rusak, suara mereka selalu menggema di pelosok negeri, “Kami tetap ada dan hadir di sini, untuk mengabdi,”.(Rel)
17.627 peserta SMA SMK dan MA ikuti UTBK-SNBT 2026 di Unimed
Medan (Satu Nusantara News) - Sebanyak 17.627 peserta siswa-siswi SMA/SMK dan MA mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional...









