Mekkah (Satu Nusantara News) – Ketua Kelompok Terbang (Kloter) 10 KNO Medan Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, menyebutkan, pihaknya secara tim bekerja siang dan malam, dalam mengurus jemaah haji yang sedang mengalami sakit di tanah suci Mekkah.
“Terkadang kamar tidur yang kami gunakan, terpaksa dialihfungsikan sebagai klinik bagi Jemaah haji sakit”, ujar Lukman, melalui WhatsApp kepada PPIH Debarkasi Medan, Sabtu (21/06).
Ia menyebutkan, tantangan terberat adalah ketika melihat kondisi jemaah yang dalam keadaan sakit berat atau meninggal dunia. Dalam Kloter 9 KNO terdapat dua jemaah yang sakit kritis dan wafat di tanah suci, namun dilakoninya dengan penuh kesabaran dan kebahagiaan.
Lukman terus memantau para jemaah haji yang sakit bersama keluarga pendamping yang ikut melaksanakan ibadah haji.
“Setiap tindakan dokter bagi jemaah haji yang mengalami sakit, hanya dia yang mengetahui, sebab dokter juga berkonsultasi kepada dirinya sebagai ketua kloter sampai takdir berkata lain,” ucapnya.
Ia menjelaskan, dua jemaah hajinya wafat pada hari Jum’at 20 Juni 2025, satu hari menjelang kepulangan Kloter 10 ke tanah air, pada Hari Sabtu, 21 Juni 2025. Sebagai ketua kloter, pihak syarikah pasti berkordinasi dengan dirinya. Untuk almarhum Erwin Dasnir Tanjung yang wafat pagi dini hari 03.10 WAS terus mendampingi proses penyelenggarakan pemandian jenazah, pengkafanan, pensholatan hingga pengkuburan. Dalam proses penyelenggaraan jenazah inilah, Lukman sangat terharu, sedih dan bercampur bahagia sebab ia bersama petugas pembimbing ibadah Ustadz Sori Monang dibawa dengan menggunakan mobil crab (sejenis mobil Golf) ke lantai dua dekat lintasan tawaf untuk ikut menshalatkan jenazah almarhum Erwin selepas shalat Jum’at berjemaah.
Lain pula ceritanya dengan almarhum Sri Sukenti yang wafat pukul 15.18 hanya beda waktu dan masih dihari yang sama yaitu Jum’at, 20 Juni 2025. Pada situasi ini, kembali Lukman dan petugas pelayanan umum dari TPHD Muhammad Arif mengurus proses penyelenggaraan jenazah hingga pengkafanan pukul 01.00 WAS.
Untuk almarhumah Sri Sukenti, ia tidak bisa ikut shalat jenazah di Masjidil Haram sehabis shalat subuh sebab Kloter 9 KNO, pukul 07.00 WAS akan bertolak ke Jeddah untuk persiapan pulang ke tanah air. Waktu yang sempit, walau dengan badan yang letih dan penat serta kurang istirahat, ia memaksa dirinya untuk melaksanakan Tawaf Wa’da sekitar pukul 02.00 WAS.
Dari kesabaran mengurus jenazah, waktu tawaf tujuh kali putaran Ka’bah yang padat, dapat diselesaikan dalam waktu 15 menit.
“Saya merasakan badan yang letih dan penat serta kurang istirahat karena seharian mengurus jenazah, anehnya terasa ringan dan segar dan saya merasakan tawaf terasa sangat cepat, seakan- akan jemaah lain memberikan saya jalan tawaf agar bisa cepat. Di situ saya sempat menangis, memandang Ka’bah yang sebentar lagi akan ditinggalkan. “Mungkin dua jemaah yang wafat tersebut mendoakan saya di alamnya sebagai ucapan terima kasih”, ujar Lukman.
Lukman juga menambahkan, dua almarhum yang diurus penyelenggaraan jenazahnya pasti mendapat keberkahan dari Allah SWT. Pertama, diwafatkan di tanah suci Mekkah. Kedua wafat pada hari Jumat yaitu hari yang penuh berkah dan disebut penghulunya hari. Ketiga, jasadnya dishalatkan di Masjidil Haram oleh para jemaah haji.(Rel)
PLN UID Sumut gelar aksi tanam pohon di Tapteng peringati Hari Bumi Sedunia
Tapanuli Tengah (Satu Nusantara News) - PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Utara melalui PLN UP3 Sibolga menggelar aksi...









