Padang Lawas (Satu Nusantara News) – Mahmudin Ali Syukur, seorang guru Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Padang Lawas yang tidak pernah lelah menyalakan cahaya iman dan menggelar dakwah di pelosok pedesaan.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan dan keterbatan Mahmudin, sepeda motor miliknya menjadi saksi bisu perjalanan dakwah dari desa ke desa, mengantar pesan kebaikan dengan ketulusan hati.Meski hidup sederhana, semangatnya melampaui batas, menjadikannya teladan tentang arti pengabdian yang sesungguhnya.
Selepas azan Zuhur, Rabu (10/09) Mahmudin hanya sempat berganti pakaian sebelum kembali bergegas. Sepeda motornya sudah siap di depan rumah, menantikan dirinya menembus jalanan desa yang sebagian masih berbatu. Tujuannya adalah wirid Yasin di Kecamatan Barumun Tengah, sebuah kegiatan rutin yang selalu ia hadiri.
Mahmudin, Guru MTsN 2 Padang Lawas, saat ini telah berstatus Aparat Sipil Negara (ASN) PPPK. Namun, bagi Mahmudin, pengabdian tidak berhenti di ruang kelas. Setiap Jumat usai shalat, ia berkeliling dari satu desa ke desa lain, menyampaikan pesan dakwah sederhana namun penuh makna yang mengingatkan jamaah agar selalu ingat pada Allah dan menyiapkan bekal menuju akhirat
“Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Maka perbanyaklah amal shalih, jauhi maksiat, dan jangan tunda taubat,” ucap Mahmudin, dengan lantang, disambut tatapan khusyuk para jamaah.
Ceramah tersebut, Mahmudin membawakan tema Siksa Kubur dan Amalan yang Meringankannya. Mahmudin juga mengingatkan pentingnya zikir, shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, serta menjaga hubungan baik sesama. Meski tema ini cukup berat, dalam penyampaian ceramah lembut dan sederhana, sehingga mudah dipahami serta menyentuh hati para jamaah.
Di balik kiprahnya, Mahmudin menjalani kehidupan yang penuh kesahajaan. Istrinya sehari-hari berjualan es kelapa di pinggir jalan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keterbatasan ekonomi tidak pernah menyurutkan langkahnya dalam menebar ilmu dan cahaya iman.
Tak hanya mengisi wirid Yasin, Mahmudin juga sering dipercaya sebagai Khatib pada Shalat Jumat dan penceramah pada peringatan hari besar Islam. Panas terik, hujan deras, atau perjalanan jauh tak pernah menjadi penghalang. Sepeda motornya tetap melaju, sementara hatinya teguh membawa pesan kebaikan. Setiap perjalanan dakwah baginya bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati yang penuh pengorbanan.
Nurjamila Harahap, seorang jamaah wirid, mengaku selalu terinspirasi. “Ceramah Mahmudin, selalu menambah wawasan kami. Penyampaiannya sederhana, tetapi menyentuh hati dan membuat kami ingin memperbaiki diri,” ujar Nurjamila, dengan haru.
Kepala MTsN 2 Padang Lawas, Yahya Siregar, juga memberikan apresiasi tinggi. “Kami bangga memiliki guru yang tidak hanya berdedikasi di madrasah, tetapi juga aktif di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi teladan bagi para guru dan siswa, bahwa mengajar dan berdakwah adalah amal yang saling melengkapi,” ucap Yahya.
Dari mimbar ke mimbar, dari desa ke desa, Mahmudin terus bergerak menyalakan cahaya iman. Sosoknya menjadi bukti bahwa kesederhanaan tak pernah menghalangi seseorang untuk memberi manfaat.
Mahmudin, bagaikan sebuah pelita kecil di jalan desa yang cahayanya mungkin sederhana, namun sinarnya tak pernah padam, menuntun banyak hati untuk kembali kepada Sang Pencipta.(Rel)
BPDSM Sumut dorong peningkatan kompetensi ASN melalui penjajakan kerja sama dengan Singapura
Medan (Satu Nusanara News) - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sumatera Utara, selain menghadirkan sistem pembelajaran digital, juga terus...









