Medan (Satu Nusantara News) – Ketua Senat Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Syawal Gultom, MPd, mengajak para lulusan untuk tidak berhenti belajar setelah menerima ijazah.
“Wisuda hari ini bukanlah akhir dari belajar, melainkan awal dari proses pembelajaran yang sesungguhnya,” ucap Prof Syawal, ketika menyampaikan orasi ilmiah yang bertajuk perubahan zama, disrupsi teknologi dan tantangan masa depan pendidikan tinggi pada wisuda sarjana di Gedung Auditorium Unimed, Rabu (21/05)
Prof Syawal, memetakan tiga jalur utama yang mungkin dipilih lulusan yaitu menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), bekerja di dunia industri dan perusahaan, atau merintis usaha sendiri.
“Ketiganya mulia, namun apapun pilihannya, semua membutuhkan kesiapan menghadapi dunia kerja yang semakin terdampak oleh otomasi dan kecerdasan buatan (AI),” ucapnya.
Merujuk laporan World Economic Forum, Prof Syawal, menyampaikan bahwa 85 juta pekerjaan di dunia, termasuk Indonesia, terancam digantikan oleh otomasi. Di beberapa negara seperti Tiongkok, Thailand, hingga Malaysia, perpindahan pekerjaan ke sistem otomatis bahkan telah menyentuh angka 70 persen lebih. Maka, lulusan tak boleh hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga harus membekali diri dengan keterampilan digital dan karakter pembelajar sepanjang hayat.
“Apapun latar belakang pendidikan anda, bahasa, sosial, teknik, ekonomi itu semua bisa relevan di era AI, asalkan anda mau belajar,” ujar tokoh pendidikan nasional itu.
Prof Syawal, menyebutkan empat sektor unggulan yang paling potensial ke depan, seperti teknologi informasi, e-commerce, energi terbarukan, dan ekonomi kreatif.
Ia merinci 20 jenis pekerjaan masa depan yang menuntut kompetensi digital dan strategi personal yang kuat, mulai dari data analyst, AI specialist, hingga digital marketing dan cybersecurity. Namun, menurut Prof. Syawal, memiliki keterampilan saja tidak cukup. Strategi adalah kunci membedakan lulusan biasa dan lulusan yang berhasil.
“Strategi itu mencakup membangun jejaring, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mengembangkan daya juang, dan memperluas cakrawala pengetahuan lintas disiplin,” katanya.
Prof Syawal menekankan pentingnya diversifikasi kompetensi, bahkan bagi lulusan dari bidang non-teknis seperti bahasa dan pendidikan.
Dalam orasi tersebut, Prof Syawal juga memberikan inspirasi dari tokoh-tokoh dunia seperti Michael Faraday, Thomas Alva Edison, pendiri WhatsApp Jan Koum, dan pendiri Tokopedia William Tanuwijaya anak Siantar. Keempat tokoh ini menempuh jalan berbeda, namun memiliki kesamaan utama yakni semangat belajar tanpa henti dan tidak mudah menyerah.
Mengutip filsuf klasik, Prof Syawal menutup orasinya dengan kalimat penuh makna, “A lifelong learner is a lifelong winner.” Itulah pesan kuat bagi para wisudawan Unimed supaya belajarlah terus, karena hanya dengan belajar, kalian akan menang menghadapi perubahan zaman.(Rel)
Pemprov Sumut bersama pihak SMAN 5 Pematangsiantar sepakat tempuh relokasi lahan sebagai solusi sengketa yang dihadapi
Pematangsiantar (Satu Nusantara News) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara bersama pihak SMA Negeri 5 Pematangsiantar sepakat menempuh relokasi lahan...









