Medan (Satu Nusantara News) – Nenek Marni binti Poksum (68) penjual serabi di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, akhirnya terkabul niatnya untuk menunaikan ibadah haji tanah suci Mekkah, setelah 12 tahun lamanya menunggu panggilan dari Allah SWT.
“Hampir dua dekade lamanya berjualan serabi di kota “lemang” Tebing Tinggi,” ucap Nenek Marni, di Asrama Haji Medan, Selasa (20/05).
Nenek Marni, tergabung di kelompok terbang (Kloter) 16 Embarkasi Medan, bersama 116 jemaah asal Kota Tebing Tinggi.
Ia menyebutkan, sebelum dirinya penjual serabi, juga pernah berganti profesi sebagai penjual mie sop dan hampir setiap hari pergi ke pajak (pasar) untuk menjual daganggannya tersebut.
“Dari hasil jualan serabi itu, dirinya menabung uang sedikit demi sedikit untuk biaya ongkos berangkat ke tanah suci,” kata
Marni menjelaskan, sejak tahun 2012, dirinya mendaftar untuk berangkat haji bersama salah satu putranya, Agus Suhendra. Sejak itu, dirinya dengan penuh kesabaran tetap menunggu panggilan dari Kementerian Agama. Bahkan tahun 2024, namannya sempat disebut-sebut sebagai calon jemaah yang akan berangkatn ke tanah suci.
“Namun, ternyata namanya belum masuk ke dalam daftar akhir,” ujarnya.
Marni menambahkan, sekitar tujuh bulan lalu, dirinya pernah terjatuh, dan tidak lagi berjualan serabi dan sempat khawatir Tubuh renta itu tak lagi sekuat dulu. Ia pun berhenti berjualan serabi selama 7 bulan. Ia bahkan sempat khawatir menjelang bulan Ramadan, tidak bisa menjalankan puasa, tarawih dan ibadah haji dengan sempurna karena kondisi kaki yang lemah.
“Tiga hari sebelum puasa, dirinya berdoa minta kepada Allah SWT agar disembuhkan dari segala penyakit. Keajaiban pun datang. Kesehatannya berangsur-angsur pulih. Ia bisa kembali berjalan, bisa menyiapkan diri menyambut Ramadhan dan panggilan mulia menuju tanah suci,” katanya.
Nenek Marni, yanng ditinggal suami sejak tahun 2018, memiliki lima anak dan 13 cucu yang terus memberikan semangat terhadap dirinya agar bisa berangkat untuk melaksanakan ibadah haji.
Ketika ditanya apakah pernah terlintas ingin membatalkan niat ibadah haji, mengingat masa tunggu yang begitu lama, Marni mengatakan tidak pernah terlintas sedikitpun, meski banyak yang mengajaknya untuk pergi umroh saja.
“Tidak pernah terlintas untuk membatalkan niat haji, meskipun dulu ada yang ngajak untuk umroh. Tetapi ibadah haji itu wajib. Biarlah saya tunggu, saya mau menunaikan kewajiban menunaikan ibada haji,” katanya.
Marni juga menyampaikan pesan bagi yang belum melaksanakan ibadah haji. Kalau sudah ada niat, daftar dulu. Jangan tunggu mampu, jangan tunggu tua. Niatkan sungguh-sungguh, ikhtiarkan sebisanya. Allah SWT akan mengabulkan,” jelasnya.
Kisah Nenek Marni adalah bukti bahwa niat yang tulus, usaha yang konsisten dan keyakinan yang kuat kepada takdir Allah mampu menembus segala keterbatasan. Bahwa dari dapur sederhana dan serabi pun, jalan menuju Baitullah bisa terbuka luas. Ia mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu tampak megah, tetapi jika dijalani dengan sabar dan doa, maka Allah sendiri yang akan memuliakan langkah itu.
Kisah Nenek Marni ini menjadi cermin bagi semua bahwa setiap tetes peluh saat berjualan, setiap doa saat sujud, dan setiap rupiah yang ditabung perlahan akan ikut menapak di tanah suci. Karena sesungguhnya, melaksanakan ibadah haji bukan soal siapa yang paling mampu, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh.(Rel)
Wagub Sumut ajak KAKAMMI sebagai pelapor dalam upaya pencegahan narkoba di kalangan generasi muda
Medan (Satu Nusantara News) - Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara Surya mengajak Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAKAMMI)...









