Mekkah (Satu Nusantara News) – Yazid Hulaini Habbani Nasution (22) jemaah haji termuda di kelompok terbang (Kloter) 09 KNO, warga Jalan Letda Sujono Gang Pisang I Medan Tembung,sering membantu para jemaah haji lanjut usia (Lansia), pengguna kursi roda dan cacat yang tidak memiliki jemaah pendamping, di tanah suci Mekkah.
“Alhamdulillah, sepertinya Allah memberikan kemudahan untuk saya menolong mereka, misalnya mendorong kursi roda jemaah lansia atau cacat baik saat di Armuzna, juga saat Tawaf dan Sa’i,” ujar Yazid, saat melalui pesan WhatsApp kepada Humas PPIH Debarkasi Medan, Jum’at (13/06).
Ia juga kerap membantu mempersiapkan konsumsi jemaah dan lain sebagainya.Orang tuanya mengajarkan kepada dirinya agar supaya banyak memberikan manfaat bagi orang lain.
“Prinsip saya, hidup harus mendatangkan manfaat dimanapun kita berada, disaat diri kita mampu sehat dan kuat untuk berbagi,” ujarnya.
Yazid juga mengatakan, secara spiritual ia merasakan banyak kejadian unik terhadap dirinya saat melaksanakan haji, bisa jadi, karena dirinya sering menolong jemaah yang dalam keadaan sulit.
Ia merasakan badan tidak begitu fit dan kaki yang masih pegal selepas ibadah puncak Armuzna. Ia berdoa kepada Allah supaya dimudahkan ibadah mengelilingi mathaf dan begitu melihat Ka’ bah mendadak badan terasa bugar dan ringan sehingga ibadah tawaf cepat selesai. Kerumunan massa yang besar dan berdesak desakan saat tawaf dapat dilewatinya dengan mudah.
“Saya juga merasa lebih tentram saat di Madinah dan Mekkah walau diuji dengàn pelayanan syarikah yang tidak maksimal, misalnya tenda dan toilet beserta sanitasinya yang belum memuaskan, saat di Armuzna, namun hatinya merasa sangat tenang.Hal ini bertolak belakang saat berada tanah air sebelumnya yang sering emosi jika melihat hal-hal yang tidak sesuai,” ujarnya.
Yazid kerap menangis saat berada di Madinah dan Mekkah.Padahal ia adalah orang yang sangat jarang mengeluarkan air mata. Paling-paling hanya karena menguap. Tetapi saat di sana, entah mengapa air mata dengan mudahnya menetes.
“Terlebih lebih lagi ketika membaca atau mendengarkan bacaan Al- Qur’an dengan syahdunya. Tiba-tiba perasaan bercampur aduk. Teringat akan dosa-dosa yang selama ini telah dilakukan, situasi ini juga terjadi saat berdoa, persis di depan Ka’bah,” kata Yazid.
Ia menambahkan, dirinya didaftarkan haji oleh orang tuanya 13 tahun yang lalu, saat usianya 9 tahun. Ia berangkat haji beserta kedua orang tua dan dua orang kakaknya.
“Alhamdulillah, kami sekeluarga berlima tahun ini memenuhi panggilan Allah sebagai dhuyurfurrahman (tamu Allah) di usia saya 22 tahun bersama keluarga saya” jelas Yazid.
Yazid menyebutkan, dirinya baru saja menyelesaikan perkuliahan S1 di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara. Saat wisuda, ia tidak dapat hadir mengikuti prosesi wisuda UIN Sumut ke- 85 karena dirinya tengah berada di Mekkah dalam rangka melaksanakan ibadah haji. Kampusnya memberikan kesempatan kepada dirinya untuk ditampilkan secara virtual di depan teman- temannya yang sedang diwisuda.
“Saya berterima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak rektorat dan civitas akademika UIN Sumut para petugas Kloter 09 yang telah membantu saya untuk mengikuti prosesi wisuda secara virtual dari tanah suci, semoga menjadi amal kebaikan untuk kita semua”, ujarnya.
Bagi Yazid, menunaikan ibadah haji di usia relatif muda sangat disyukurinya, karena usia muda, stamina dan energi lebih kuat sehingga ibadah dapat dijalankan dengan lebih fokus dan optimal.
“Melaksanakan haji di usia muda juga dapat menjadi investasi spiritual yang kuat untuk masa depan, memperkuat keimanan dan memberikan arah hidup yang lebih jelas,” kata Yazid.(Rel)
PLN UID Sumut gelar aksi tanam pohon di Tapteng peringati Hari Bumi Sedunia
Tapanuli Tengah (Satu Nusantara News) - PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Utara melalui PLN UP3 Sibolga menggelar aksi...









